Home / Kisah

Sabtu, 16 Mei 2015 - 04:20 WIB

Apa Sih Cinta Sejati Dalam Islam? Temukan Jawabannya dari Kisah Ini

Blog Wanita – Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya.

Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?

Masyarakat di belahan bumi manapun ketika ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh cita-cita ‘Cinta Suci’.

Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan aturan mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca perihal itu semua.

Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan.

Menurutnya: Sebuah relasi cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya lantaran faktor bosan semata, tapi lantaran kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis.

Rasa tergila-gila dan cinta pada seorang wanita tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.

Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang menciptakan seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan angin selaksa tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang kemudian menghilang.

Baca juga:  Kisah Keikhlasan Hati Seorang Wanita

Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda?

Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari. Anda ingin sengsara lantaran tidak lagi mencicipi indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya?

Ataukah anda ingin tetap mencicipi betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya menyayangi pasangan anda?

Saudaraku, bila anda menyayangi pasangan anda lantaran kecantikan atau ketampanannya, maka ketika ini saya yakin anggapan bahwa ia yakni orang tercantik dan tertampan, telah luntur.

Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh lantaran ia yakni orang yang kaya, maka saya yakin ketika ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.

Bila rasa cinta anda bersemi lantaran ia yakni orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka ketika ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.

Bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda.

Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot.

Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan ketika ini?

Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar ra, bepergian ke Syam untuk berniaga.

Di tengah jalan, ia melihat seorang perempuan berbadan semampai, anggun nan rupawan berjulukan Laila bintu Al Judi.

Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu.

Baca juga:  Kisah Wanita Berhenti bekerja Demi Sang Suami

Maka semenjak hari itu, Abdurrahman ra mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan angin puting-beliung asmara kepada Laila bintu Al Judi.

Sehingga Abdurrahman ra sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya.

Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah

Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?

Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.

Duhai, kapankah saya sanggup berjumpa dengannya, Semoga bersama kafilah haji, ia tiba dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab ra merasa iba kepadanya.

Sehingga tatkala ia mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman ra.

Dan subhanallah, taqdir Allah sesudah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang.

Maka cita-cita Abdurrahman pun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian.

Begitu cintanya Abdurrahman kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain.

Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan sikap Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah saw yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang mengakibatkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak).

Baca juga:  Ketahuilah! Wanita Itu Luluh dengan Perhatian dan Kata Maaf

Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia hingga melupakan istri-istrinya yang lain, maka kini iapun bersikap ekstrim.

Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap bernafsu kepadanya. Tak kuasa mendapatkan perlakuan ini,

Laila pun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah ra. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

 يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau menyayangi Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya.”

Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka hasilnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamaloleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana! Anda ingin menikmati betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?

Share :

Baca Juga

Kisah

Hakikat dan Hikmah Jilbab; Sebuah Kisah Nyata yang Wajib Anda Baca

Kisah

Cerita Jilbab-ku. Jilbab Itu Kebiasaan

Kisah

Kisah Wanita yang Menolak Lamaran Pria Tampan; Apa Hikmah dan Pelajaran di Baliknya?

Kisah

Kisah Wanita Berhenti bekerja Demi Sang Suami

Kisah

Kisah Keikhlasan Hati Seorang Wanita

Kisah

Kisah Perasaan Istri Berjilbab yang Mencari Kebahagiaan

Kisah

Kisah Kasatmata Penyesalan Istri yang Durhaka