Cerita Jilbab-ku. Jilbab Itu Kebiasaan

cerita jilbab

Blog Wanita – Kutulis kisah jilbab ku ini di sela-sela pekerjaan yang masih numpuk. Berawal dari curhat teman sekantor, dengan derai air mata yang ujungnya, suaminya lebih suka melihatnya tanpa memakai jilbab. Sungguh aneh memang. Mereka adalah pasangan muslim, tapi itulah faktanya.

Tak ada yang menarik dari cerita jilbab ku, tidak seperti kebanyakan cerita jilbab di dunia maya, hampir semua mengisahkan cerita terlarang. Keanehan juga kelihatan. Banyak yang mencari cerita jilbab seperti itu.

Dalam keluargaku, jilbab adalah pakaian keseharian. Saya memakai jilbab sejak masih anak-anak. Masuk TK, SD, sampai perguruan tinggi. Akhirnya membuat jilbab sebagai suatu berbeda jika kutak memakainya. Sepupu datang pun, pasti jilbab akan segera saya ambil lalu memakainya.

Pernah waktu SMA dulu aku kepincut dengan teman cowok sekelas. Ujungnya kami menyatakan cintrong. Lucu dan risih. Ada rasa tidak enak, wanita berjilbab tapi pacaran. Namun waktu itu, godaan setan lebih tajam, “kan cuma iseng”, begitu pikirku.

Suatu ketika, “pacar” ku ini mengajak aku jalan, tepatnya habis ujian semester kelas II waktu itu. Deg degan, tapi tak kuasa kutolak. Tawaran itu aku terima dengan syarat, kita tidak berdua. Kami berangkat ke pantai barengan sama teman lain, namun mereka juga berpasangan.

Yang namanya pantai, pasti pakai acara basah-basah. Semua teman termasuk “pacar” ku mengajak ku masuk ke dalam air. “Udah buka saja jilbabnya”, kata mereka. Ada yang lain, saat kumencobanya. Nuraniku teriak, aku tidak tahan. Tak cukup 1 menit, aku kembali lari naik ke darat, dan buru-buru memakaki jilbabku.

“Kenapa?” tanya “pacar” ku.
“Tidak, cuma merasa aneh saja”. Jawab ku menunduk.

Terkait
1 daripada 21

Aku berlari dari mereka sejauh mungkin. Entah kenapa kulakukan itu, padahal dia tidak melakukan apa-apa. Namun rasa malu ku mengalahkan segalanya.

Keesokan harinya, aku jijik melihatnya… Pacarku berusaha datang dan menyampaikan maaf, namun tak ada ruang sedikitpun untuknya.

Beberapa teman dekatku sekaligus teman dekatnya, melakukan hal yang sama. Mereka mencoba menyambungkan kembali hubungan ku dengan dia, tapi entah kenapa, hanya rasa benci yang muncul.

Setahun berlalu, akhirnya aku bisa bersikap enjoy.

 

***

Sejak saat itu di sekolah, aku dipanggil ustazah. Jujur, saya tidak suka dan merasa sangat tidak layak dipanggil seperti itu. Ustazah, adalah pekerjaan mulia, dan aku hanya siswa. Mungkinkah karena sikapku yang tidak mau membuka jilbab?

Padahal, jujur saja, rasa bersalah waktu di pantai kala itu, bukan karena pengetahuanku akan jilbab seperti yang banyak dikatakan ustazah, tapi murni ada rasa beda, karena jilbab bagiku hanyalah berawal dari kebiasaan. Kebiasaan itu, akhirnya membuatku selalu mengenakannya, dan tidak bisa melepasnya.

Demikian cerita jilbab-ku. Moga di lain waktu, saya bisa menyambungnya dengan cerita yang lebih menarik… Kembali bekerja… :))

Baca Juga...

Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi