Kisah Perasaan Istri Berjilbab yang Mencari Kebahagiaan

Blog Wanita – Dua tahun usia pernikahan semakin memperjelas bagiku, bahwa wajah bukanlah syarat kebahagiaan. Harta bukanlah keniscayaan senyuman.

Aku mungkin lebih dibanding wanita lain, belanja tinggal mengambil kartu kredit, pergi ke sana kemari, cukup memerintahkan satpam.

Entah apa yang ada dalam pikiranku. Mungkin aku sudah berubah. Aku seakan “liar” dengan perasaanku sendiri. Aku tak bisa memaksa melihatmu sibuk untukku. Aku tahu kamu setia setidaknya tidak mencari yang lain sebagai tambatan hatimu.

Tengah malam aku kadang terbangun, kamu pasti tak tahu. Mataku tak bisa terpejam, kala tanganku kuhempaskan ke samping kiri kanan, dan hanya menemukan guling warna violet kesayanganmu. Aku dingin. Aku gelisah, tapi aku tak resah.

Kadang sisi perasaanku yang lain ingin mencari hal baru dalam kebersamaan kita. Tapi apa mungkin, karena kutahu itu salah. Perasaanku yang tak mau disalahkan justru mengalahkan diriku sendiri. Aku beranjak dari ranjang pengantin kita menuju ke jendela, dan yang ada hanya gelap malam.

“Tung”… bunyi pesan media sosial yang tak mungkin kau jangkau. Maafkan aku, karena aku telah menjalin komunikasi terhadap beberapa orang tanpa sepengetahuanmu.

Hy, sayang, cups, adalah kata-kata yang mungkin membuatmu marah tak pandang bulu jika mengetahuinya.

Sayang, aku harus sembunyi. Sembunyi dalam kebutuhanku. Sembunyi, karena aku masih sayang sama kamu 🙂

***

Firli, suamiku, dia seorang pegawai pemerintahan dengan jabatan yang lumayan. Namun dari sisi ekonomi, sebagai istri saya lebih mapan. Usaha warisan berupa butik dan sebidang empang, cukup untuk membuatku istirahat banyak di rumah.

Dari sisi komunikasi dengan suami, dia lumayan nyambung. Romantis, entahlah. Di sini awal kesalahan saya yang membandingkan dia dengan Sufi, sopir ku yang setiap saat menemaniku.

Benar kata banyak orang, kebersamaan akan membuak peluang ke arah hal negatif. “Jika kamu berdua, maka yang ketiga adalah setan”, ungkapan yang sering kudengar saat dulu di pengajian.

Terkait
1 daripada 21

Firli sudah berkeluarga. Dia tinggal sekitar 3 km dari rumah kami. Dia menjadi sopir keluarga sebelum saya meikah. Meski jauh, Firli tidak pernah telat. Jika saya butuh saya cukup meneleponnya.

Di mobil kami jarang berbicara, mungkin karena dia segan saya majikannya. Bisa jadi juga karena penampilanku yang membuat dia segan.

Yah, sejak kecil saya didik dalam lingkungan agamis. Jilbab adalah pakaian wajibku sejak akil baligh. Sekarang, jika aku keluar selalu menggunakan jilbab syar’i.

Pernah suatu hari aku bertengkar hebat dengan suamiku. Masalah kecil. Dia hanya menyarankan aku tidak pergi ke empang dulu karena teman-temannya akan datang. Di sisi lain, saya sudah janjian dengan pembeli ikan yang akan memborong hasil panen empang hari itu.

Saya salah, jujur! Karena saya bisa saja menjadwal ulang dengan calon pembeli, esok atau kapan. Tapi entah kenapa hari itu aku bersikeras.

Suamiku membanting pintu Tindakan yang tak pernah saya alami baik dalam keluarga maupun sejak menikah.

Aku menangis sejadi-jadinya dan berlari ke mobil. Entah kebetulan atau tidak, Firli sudah stay di mobil.

“Ke mana bu?”

Pertanyaan firli yang tidak aku jawab. Namun, Firli menjalankan mobil, menuju empang.

Di mobil aku masih terus menangis, air mata terus mengalir, sambil kepalaku kusandarkan di pintu.

Tiba-tiba tangan Firli menyodorkan tisu. Antara kaget dan serba salah, saya melihat dia. Di sinilah awal mula kami bertatapan mata.

“Terima kasih” Kataku.

Bersambung

 

Baca Juga...
Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi