Emansipasi Wanita, Mengapa Tidak Ada Emansipasi Pria?

Blog Wanita – Prinsip emansipasi wanita yang mengusung kesetaraan gender selalu digagaskan kaum wanita. Kaum perempuan semakin berpeluang besar mendapatkan apa yang diinginkan.

Namun, kata “emansipasi pria” rasanya tidak pernah terdengar. Apakah pria sudah ditakdirkan mampu melakukan segalanya? Tidak juga. Bila perempuan dapat mengerjakan apa yang ditangani laki-laki, perempuan itu dianggap tangguh. Pandangan akan berbeda, bila laki-laki yang mengerjakan tugas-tugas perempuan.

Gerakan emansipasi banyak diteriakkan terutama kaum perempuan yang mengharapkan persamaan dengan kaum laki-laki

Emansipasi Wanita, Mengapa Tidak Pria? Sekarang ini banyak orang menyerukan, terutama kaum perempuan yang mengharapkan persamaan dengan kaum pria. Di mana pekerjaan dari kaum laki-laki ingin juga dilakukan oleh kaum wanita.

Lalu, bagaimana Islam memandang perihal hal ini?

Orang yang menyerukan persamaan hak perempuan dan pria, mengapa tidak menuntut persamaan laki-laki dengan perempuan (emansipasi pria)?

Mereka menuntut biar perempuan melaksanakan pekerjaan pria, tentunya menjadi wajib pula biar laki-laki melaksanakan pekerjaan wanita. Kalau tidak, berarti ada ketimpangan, ketidakadilan, bahkan kezaliman dari persamaan hak itu sendiri.

Kalau perempuan dituntut melaksanakan pekerjaan pria, sedangkan mereka tetap melaksanakan pekerjaan yang khusus dapat dikerjakan oleh kaum perempuan saja, itu berarti meletakkan beban baru di atas bahu kaum wanita.

Terkait
1 daripada 21

Yang seperti itu, tidak dapat dikatakan sebagai persamaan hak, tetapi justru kezaliman terhadap kaum wanita.

Para perempuan harus menilai bahwa orang yang menyerukan persamaan hak tersebut sebagai musuh mereka.

Begitu pula orang yang menyerukan emansipasi perempuan (persamaan hak) hendaknya menuntut kepada perempuan biar melaksanakan semua pekerjaan pria, termasuk yang berat-berat. Tidak hanya menentukan yang lezat dan gampang saja.

Jika emansipasi pria didengungkan dan dengan cara yang sama, maka orang lain akan menganggap laki-laki itu aneh dan kemayu.

Misal, seorang laki-laki memakai pakaian serba pink dengan motig bunga-bunga di tempat umum. Respons yang biasa terjadi, semua mata akan tertuju pada sang laki-laki. Gumaman kecil, seperti “Ih, cowok kok pake warna pink” akan terdengar.”

Pandangan seperti ini membuat kaum lelaki enggan memakai pakaian warna pink. Diskriminasi kecil turut berpengaruh signifikan terhadap laki-laki. Mereka juga segan pergi ke salon, melakukan perawatan wajah, menonton drama Korea, dan mengidolakan aktor/penyanyi pria. Alasan takut dibilang homo menjadi pertimbangan.

Dari penjelasan di atas, apakah salah jika pria melakukan hal tersebut? Apakah akan menghilangkan kejantanannya? Apakah itu akan menurunkan kadar hormon testosteron? Laki-laki juga wajar melakukan hal tersebut tanpa memandang latar belakang seseorang.

Ada banyak tulisan tentang emansipasi wanita, tapi tidak ada tentang emansipasi pria. Karena memang tidak perlu, toh emansipasi wanita muncul karena rasa ketidakadilan akan hak sosial yang tidak merata.

Kita sebagai wanita kadang diberlakukan tidak adil. Padahal dalam konteks tertentu di lingkungan sosial misalnya, wanita juga bisa melakukan seperti layaknya pria.

Baca Juga...

Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi