Kenapa Wanita Tidak Disekolahkan?

Blog Wanita – Tengah malam aku sadar, blog-ku tidak pernah apdet. Mau menulis apa, serasa hilang tak ada inspirasi. Sampai kuteringat dengan seorang wanita yang ingin sekolah tapi dilarang. “Kenapa wanita tidak disekolahkan?

Pertanyaan itu juga pernah menjajah pikiranku saat di lokasi KKL tiga tahun lalu. Sebuah kampung yang menjadikan anak wanitanya hanya tamat SMA paling tinggi.

Berpikir masuk PT sangat wah bagi penduduk di sana. Bukan karena tidak mampu, tapi menganggap toh ujungnya menjadi istri di bawah kendali suami.

Kita bisa belajar dari Shohra Qadiri. Dia adalah wanita Afghanistan dan menjadi top skor ujian masuk universitasdari 200.000 pendaftar laki-laki dan wanita. Shohra hanya contoh dari delapan juta wanita di Afghanistan, dan 40% nya adalah wanita.

Sembilan puluh enam universitas beroperasi di Afghanistan, mendidik lebih dari 200.000 siswa setiap tahun, dan sekarang, sekitar 20% dari mahasiswa Afghanistan adalah wanita.

Itulah mengapa sangat penting menanamkan dalam sanubari sebelum menjadi orang tua bahwa wanita  sekolah adalah hak. wanita berhak bekerja, walau kelak akan memiliki suami sebagai imam mereka juga.

Pentingnya wanita sekolah dan berpendidikan tinggi

Mencari ilmu, atau yang kemudian disebut dengan sekolah, kursus, belajar, atau apalah namanya sejatinya sangatlah dianjurkan. Nabi Muhammad dalam riwayat yang shahih menyebutkan bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya. Allah bahkan memberikan wahyu pertama kali kepada Nabi untuk “Iqra” yang dalam banyak tafsiran diartikan sebagai membaca, yang itu sejatinya menjadi bagian dari proses belajar.

Terkait
1 daripada 21

Imam Syafii juga menyebutkan bahwa ilmu adalah kunci mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Lalu di manakah kesalahan menuntut ilmu bagi perempuan yang berkarir sebagai ibu rumah tangga?

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah kesalahan, ataupun kesia-siaan dari ilmu yang telah didapatkan. Kita sering sekali menyebutkan “Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya”. Tapi kita lupa, bagaimana resources dari madrasah itu sangat menentukan masa depan anak. Anak dari ibu yang berpendidikan akan melewati masa anak-anak yang begitu gemilang. Ia mendidik dengan ilmu, berdasarkan pengetahuan, dan wawasan yang ia miliki.

Dalam memberikan ASI misalnya, seorang ibu yang berbekal ilmu akan mencari tahu makanan terbaik baik dari segi gizi, cara mengolah, serta cara menyuapnya. Dengan lemah lembut, dengan membacakan doa terlebih dahulu, membacakannya shalawat, atau sekedar diajak ngobrol.

Berbeda sekali dengan ibu yang hanya berbekal “katanya”. Prinsipnya adalah anak mau makan, semakin banyak makanan semakin bagus, dan apapun makanannya itu baik untuk pertumbuhan.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh psikolog dari University of Michigan, Sandra Tang, pada 2014 lalu menunjukkan bahwa pendidikan ibu akan memengaruhi masa depan anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan itu selanjutnya menjadi arahan dan rem kontrolnya dalam melakukan sesuatu. Tidak hanya dalam mendidik, tapi juga dalam mengambil keputusan sebagai seorang perempuan mandiri, sebagai istri yang mendampingi suami.

Pada akhirnya, berpendidikan, belajar, sejatinya adalah tentang proses berfikir dan pembentukan karakter diri dalam menghadapi kehidupan-kehidupan yang lebih panjang. Meskipun ilmu kehidupan tidak ada sekolahnya, pengalaman, pembelajaran, dan pendidikan adalah salah satu kisi-kisi kehidupan yang bisa dijadikan sebagai rambu-rambu kehidupan.

So, mau di rumah jadi ibu rumah tangga, ataupun menjadi perempuan karir, gak ada yang salah. Yang salah itu kalau sudah gak mau jadi wanita karir, gak mau ngurus anak tapi kerjaannya ngabisin uang suami, hehehe.

Sebagian dikutip dari bincangmuslimah. com

Baca Juga...
Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi