Home / Kisah

Kamis, 30 Juni 2016 - 04:15 WIB

Kisah Kasatmata Penyesalan Istri yang Durhaka

Blog Wanita – Aku membencinya…… Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, Aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya.

Menikah karena paksaan orangtua, Membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, Aku tak pernah memperlihatkan perilaku benciku.

Meskipun membencinya, Setiap hari saya melayaninya sebagaimana kiprah istri. Aku terpaksa melaksanakan semuanya karena saya tak punya pegangan lain.

Beberapa kali muncul impian meninggalkannya tapi saya tak punya kemampuan finansial dan pemberian siapapun.

Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurutmereka, dia sosok suami tepat untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, Aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa.

Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena saya menganggap hal itu sudah seharusnya sehabis apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku senang dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, Akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, Aku selalu menyalahkan suamiku.

Aku tak suka handuknya yang berair yang diletakkan di daerah tidur, Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, Aku benci ketika ia menggunakan komputerku meskipun hanya untuk menuntaskan pekerjaannya. Aku murka kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, Aku juga murka kalau ia menggunakan pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, Aku murka kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika saya sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya saya menentukan untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, Tapi saya tak mau mengurus anak. Awalnya beliau mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam hingga suatu hari saya lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya.

Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, Dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahan terbesarku padanya.

Kemarahan semakin bertambah ketika saya mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melaksanakan tindakan vasektomi semoga saya tidak hamil lagi.

Dengan patuh ia melaksanakan semua keinginanku karena saya mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu, tak terasa hari itu ulang tahun ibuku yang ke-delapanpuluh. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anakku sudah menungguku di meja makan.

Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar bawah umur ke sekolah. Hari itu, Ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, Ia juga memelukku. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun jadinya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu Seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, Akupun tetapkan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon saya bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan acara kami.

Tiba waktunya saya harus membayar tagihan salon. Namun betapa terkejutnya aku, Ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bab terdalam saya tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan.

Aku menelepon suamiku dan bertanya, “Maaf sayang, Kemarin Farhan meminta uang jajan dan saya tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, Kalau tidak salah saya letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Baca juga:  Sehebat Apapun Pria Berbohong, Wanita Pasti Tahu. Kenapa?

Dengan marah, Aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak usang kemudian, Handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, Akupun mengangkatnya dengan setengah membentak.

“Apalagi??”

“Sayang, Aku pulang sekarang, Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang kini ada dimana?” tanya suamiku cepat, Kuatir Aku menutup telepon kembali.

Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, Aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan menyampaikan bahwa suamiku akan tiba membayarkan tagihanku.

Si empunya Salon yang sahabatku sebetulnya sudah membolehkanku pergi dan menyampaikan saya bisa membayarnya nanti kalau saya kembali lagi.

Tapi rasa malu karenaa “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika saya melihat keluar dan berharap kendaraan beroda empat suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, Aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku.

Tak ada balasan meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak yummy dan marah. Teleponku diangkat sehabis beberapa kali mencoba.

Ketika bunyi bentakanku belum lagi keluar, Terdengar bunyi aneh menjawab telepon suamiku. Aku melongo beberapa ketika sebelum bunyi lelaki aneh itu memperkenalkan diri,

“Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki aneh itu ternyata seorang polisi, Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan ketika ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.

Saat itu saya hanya melongo dan hanya menjawab terima kasih.

Ketika telepon ditutup, saya berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana jadinya saya hingga di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku.

Aku yang hanya membisu seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melaksanakan apa karena selama ini dialah yang melaksanakan segalanya untukku.

Sehabis menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan memberikan isu itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, Stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, Aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada air mata setetespun keluar di kedua mataku.

Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak bisa membuatku menangis.

Ketika mayat dibawa ke rumah dan saya duduk di hadapannya, Aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah saya benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.

Kusentuh perlahan wajahnya yang telah masbodoh dan kusadari inilah kali pertama kali saya menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Air mata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku.

Aku terkesiap berusaha mengusap semoga air mata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, Aku ingin mengingat semua bab wajahnya semoga kenangan manis ihwal suamiku tak berakhir begitu saja.

Tapi bukannya berhenti, Air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak bisa membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, Tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa saya tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan.

Baca juga:  Apa Sih Cinta Sejati Dalam Islam? Temukan Jawabannya dari Kisah Ini

Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan sehabis melahirkan. Ia tak pernah bolos mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau saya sedang malas makan.

Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena saya tak pernah bertanya. Bahkan saya tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku yaitu penggemar mie instant dan kopi kental.

Dadaku sesak mendengarnya, Karena saya tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena saya hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk diriku sendiri. Aku tak perduli beliau sudah makan atau belum ketika pulang kerja.

Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari alasannya dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih erat ke kantornya, karena tak mau jauh-jauh dari daerah tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, Aku tak bisa menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun.

Aku tak tahu apapun hingga terbangun di daerah tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku.

Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa saya begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani sehabis kepergiannya bukanlah kebebasan ibarat yang selama ini kuinginkan tetapi saya malah terjebak di dalam impian untuk bersamanya.

Di hari-hari awal kepergiannya, Aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan.

Tetapi yang kuingat hanyalah ketika suamiku membujukku makan kalau saya sedang mengambek dulu. Ketika saya lupa membawa handuk ketika mandi, saya berteriak memanggilnya ibarat biasa dan ketika malah ibuku yang datang,

Aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali saya tidak bisa melaksanakan sesuatu dirumah, menciptakan sobat kerjanya kebingungan menjawab teleponku.

Setiap malam saya menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi saya terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu saya begitu kesal kalau tidur mendengar bunyi dengkurannya, Tapi kini saya bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali.

Dulu saya kesal karena ia sering acak-acakan di kamar tidur kami, Tetapi kini saya merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa.

Dulu saya begitu kesal jikalau ia melaksanakan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, Sekarang saya memandangi komputer, Mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu saya paling tidak suka ia menciptakan kopi tanpa bantalan piring di meja, Sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus.

Remote televisi yang biasa disembunyikannya, Sekarang dengan gampang kutemukan meski saya berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote.

Semua kebodohan itu kulakukan karena saya baru menyadari bahwa beliau mencintaiku dan saya sudah terkena panah cintanya. Aku juga murka pada diriku sendiri, Aku murka karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku murka karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku murka karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku murka karena tak ada lagi yang membujukku semoga tenang,

Tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena ingin meminta maaf, Meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, Meminta ampun dikarenakan telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.

Dari kantor tempatnya bekerja, Aku memperoleh honor terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya saya melongo tak menyangka, Ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal saya tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.

Baca juga:  4 Tanda Wanita Menyukai Seorang Pria

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena saya tak pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang saya tahu kini saya harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah honor terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga.

Tapi bekerja di mana ? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku tiba bersama seorang notaris. Ia membawa aneka macam dokumen. Lalu notaris memperlihatkan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, Ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak bisa berkata apapun yaitu isi suratnya untukku.

“Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena saya tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi.

Seandainya saya bisa, Aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi saya tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini saya telah menabung bertahap untuk kehidupan kalian nanti.

Aku tak ingin kalian susah setelah saya pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi saya berharap kamu bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, Ya sayang.

Jangan menangis, Sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk menciptakan hidupmu yang terbuang percuma selama ini.

Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kamu lakukan selama ini.

Maafkan kalau saya menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, Putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik kelak ibarat Ibu. Dan Farhan, Kesatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang nakal lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke!!!!!!”

Aku terisak membaca surat itu, Ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi pengecap menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan pesan.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku mempunyai beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak bisa menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak- anakku.

Ketika orang tuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, Tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku ketika suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikah dengan seorang pria dari tanah seberang.

Putriku bertanya, “Ibu, saya harus bagaimana nanti sehabis menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata, “Cintailah sayangku, cintailah suamimu, Cintailah pilihan hatimu, Cintailah apa yang ia miliki dan kamu akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, Kau akan belajar menyenangkan hatinya. Kau akan belajar dari kekurangannya.

Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang menciptakan ibu tetap setia pada ayah hingga sekarang?”

Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu ibarat ayah mengasihi ibu dulu, Seperti ayah mengasihi kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat memperlihatkan cintaku pada ayah. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, Tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya.

Aku bebas darinya karena kematian, Tapi saya tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

***CINTAILAH ORANG YANG MASIH MENJADI MILIKMU HARI INI KARENA MUNGKIN KETIKA DIA PERGI MENINGGALKANMU, KAMU AKAN LEBIH MENCINTAINYA***

Share :

Baca Juga

Kisah

Kisah Perasaan Istri Berjilbab yang Mencari Kebahagiaan

Kisah

Kisah Wanita Berhenti bekerja Demi Sang Suami

Kisah

Cerita Jilbab-ku. Jilbab Itu Kebiasaan

Kisah

Kisah Wanita yang Menolak Lamaran Pria Tampan; Apa Hikmah dan Pelajaran di Baliknya?

Kisah

Apa Sih Cinta Sejati Dalam Islam? Temukan Jawabannya dari Kisah Ini

Kisah

Kisah Keikhlasan Hati Seorang Wanita

Kisah

Hakikat dan Hikmah Jilbab; Sebuah Kisah Nyata yang Wajib Anda Baca