Kisah Keikhlasan Hati Seorang Wanita

Kisah Keikhlasan Hati

Blog Wanita – Kisah keikhlasan hati seorang wanita ini admin ambil dari salah satu sumber yang saya lupa siapa penulisnya. Jadi suatu saat jika ada yang mengakui, saya ucapkan maaf dan terima kasih.

Krrriiiiinnggggg……… Krrriiiiinngggg……… lagi lagi bunyi itu membuatku terkejut, dengan bunyi yang berbeda dengan bunyi jam weaker lainnya.

Itu bunyi jam weaker ku yang diberikan nenek pada waktu ulang tahun ku yang ke-13. Nenek memperlihatkan itu supaya saya tidak berdiri kesiangan lagi, tapi kenyataannya tetap saja kesiangan.

Salah satu misalnya yaa hari ini saya berdiri kesiangan lagi, biasanya ibu juga suka membangunkan ku, tetapi hari ini ibu pagi pagi sekali pergi ke Jakarta untuk menengok nenek yang sedang sakit disana, terpaksa 1 atau 2 hari saya tidur dirumah sendirian.

Ngomong ngomong perihal kesiangan, padahal hari ini itu sanggup disebut dengan hari yang bersejarah untuk masa depanku, hari ini akan ada pembagian kelulusan sekaligus dengan perpisahan siswa, dimana hari yang menentukan lulus atau tidaknya seseorang untuk melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi lagi, dan juga mungkin ini hari terakhirku mengenal dan melihat tingkah lakunya si dia.

Namanya Adam dia sekelas denganku sudah 3 tahun kita kenal satu sama lain, tetapi kita hanya sebatas sahabat atau sahabat dekat saja, sebab kita cukup tau perihal pandangan islam mengenai pacaran.

Waktu pun sudah menunjukan pukul 09.00 WIB ketika nya saya berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda motorku, saya pergi meninggalkan rumah menuju sekolah, tetapi sebelum itu saya mampir dulu kerumah temanku aliza. Kami sudah berjanji tadi malam bahwa besok kita akan pergi bersama.

Setelah tiba dirumahnya aliza, “sepertinya tidak ada orang dirumah ini”(gumamku pelan) Rumah itu serasa sepi, yang ada hanya kicauan burung yang terdengar di sebelah kiri dari tempatku singgah. Memang ayahnya Aliza itu senang mengoleksi aneka macam macam burung.

Dengan hati yang tidak mengecewakan kesal saya mencoba untuk menghubungi nomer teleponnya aliza . . .

“nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkaun” begitulah bunyi yang saya dengar dalam handphoneku, sudah saya coba berulang kali tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Saat itu juga saya memutuskan untuk pergi kesekolah seorang diri, saya berharap biar apel pembukaan kelulusannya belum dimulai.

***

Tepat pukul 10.00 kurang 15 menit saya tiba digerbang depan sekolahku kelihatan sekali apel pembukaannya belun dimulai. Terlihat saja banyak anak anak yang masih berkeliaran di halaman depan gerbang sekolah, ada yang membuka buka majalah, ada yang membicarakan perihal sekolahnya, dan masih banyak lagi deh pokoknya, tapi anak pemuda juga ada tuh yang keliatannya ngerumpi nggak jelas, terpaksa kali yaa.. diajak sama my love love nya. Hehehe J

Setelah bosan melihat anak anak itu saya pribadi mencari temanku aliza, biasanya dia suka nongkrong di depan ruang kesenian, sambil ditemani dengan pohon-pohonnya yang sanggup diajak curhat katanya selain aku.

Dalam perjalanan menuju ruang kesenian tiba tiba dari belakang ada yang memanggilku. Sepertinya bunyi itu tidak gila lagi ditelingaku, memang benar taksiranku dia adam.

“Melisa … !! tunggu !”

Aku pribadi menghentikan langkahku dan menengok kebelakang, dia pribadi mendekatiku.

“Kamu kemana saja? Jam segini gres datang??aku cari cari kau tau tadi, eeh malah ketemu sama temen kau tuh si aliza” ucap adam.

“hehehe,,, tadi saya bangunnya agak kesiangan dikit, jadi terlambat deh, tapi apelnya belum dimulaikan ??”(aku memulai kembali langkahku menuju ruang kesenian)

“Belum sih, berdiri kesiangan banyak banyak juga gak papa kok, hehehe… kau mau kemana?? Pasti mau ketemu sama si liza yaa??”

“iya nih, kau sendiri mau kemana??” “nggak kemana mana, saya mau ke kau sih. Eh duduk dulu yuk disitu, saya mau ngomong sesuatu nih sama kamu”(sambil menunjuk kawasan yang biasa kita ngobrol menyerupai biasanya di halaman sekolah sempurna di depan lapang upacara)

“Mau ngomongin apa sih? Serius banget kayaknya”. Kataku sambil memulai duduk dan diikuti olehnya.

“Begini … hari ini kan terakhir kita ketemu, saya juga sudah dongeng perihal kepindahanku yang ke luar kota itu kan sama kamu, sebab kau datengnya telat saya udah ngasih surat buat kamu, tapi saya menitipkannya kepada temanmu si Aliza, kirain saya kau nggak akan datang.

(aku hanya membisu sambil membayangkan hari hariku tanpa sesosok yang selalu buatku tersenyum) Dan ini sebagai kenang kenangan dariku untukmu, itu ada gesekan namaku yang tertulis dikalung itu

“Adam” dan ini untukku yang tertulis nama “Melisa” (sambil memperlihatkan kalungnya, dan pribadi memakaikannya kepadaku.

“Cantik…” dia berusaha untuk menggodaku.

“Thank’s ya adam… maaf saya nggak sanggup kasih apa apa untukmu”

“Nggak ko, gak duduk kasus masa cewek yang ngasih buat cowoknya kan gak etis, saya juga kini mau pribadi berangkat ke bandung, dan maaf yah kalau saya banyak salah sama kamu, saya niscaya nggak akan melupakan kenangan kita disekolah ini, saya janji”(sambil beranjak dari kawasan duduknya dan pribadi pergi meninggalkan kawasan itu)

“Adam !(dia menoleh) jangan lupain saya ya!” (suaraku tidak begitu terang menyerupai orang yang memperlihatkan isyarat) dia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, itu berarti membuktikan iya.

Setelah beberapa menit kemudian terdengar bunyi bu risna memperlihatkan intruksinya supaya anak anak berkumpul di lapangan upacara.

Bu risna itu wakasek kesiswaan di sekolah kami, dia orangnya baik, ramah dan cukup tegas juga terhadap anak anak yang sedikit nakal.

Kemudian tiba tiba dari belakang ada yang memegang tanganku, ternyata itu aliza, menyerupai biasanya kami berdua menuju kelapangan bersama.

Setelah bu risna membicarakan apa yang disampaikannya, ia pun pribadi membicarakan perihal perihal kelulusan dan hasil ujiannya.

“Hasil kelulusan kalian sudah ibu tempel diruangan keterampilan/aula atas, silahkan kalian untuk melihat hasilnya, dan setelah itu tidak ada yang keluyuran, semuanya pribadi pulang kerumah nya masing masing” Begitulah pengumuman terakhir dari bu risna, dan tidak menunggu waktu usang kami pun segera menuju keruangan aula atas.

***
Terkait
1 daripada 21

Sesampainya di sana… Betapa terkejutnya saya setelah melihat hasil dari kelulusan tersebut, ternyata saya mendapatkan predikat terbaik dari hasil nilai ujianku, semua anak anak dengan spontannya memperlihatkan ucapan selamat kepadaku, dan akupun membalasnya dengan senyuman.

Tidak usang setelah itu, temanku Aliza berpamitan kepada ku untuk pulang sebab ayahnya sudah menjemptnya, tetapi sebelum itu dia memperlihatkan surat yang tadi di terimanya dari adam untuk ku, saya pun pribadi menerimanya dan di kawasan itu juga saya pun pribadi membukanya.

Teruntuk temanku, Melisa. Selamat ya… atas prestasimu ! sudah ku bilang kau niscaya akan mendapatkan nilai yang terbaik, tapi sayangnya saya tidak sanggup lagi melihat prestasi prestasi mu yang niscaya jauh lebih baik lagi.

Aku dan keluargaku semuanya akan pindah ke bandung, saya berharap perkenalan kita tidak berakhir hingga disini.

Dan suatu ketika nanti saya niscaya kembali untuk menemui mu dan kedua orang bau tanah mu kelak. Ini no telp rumahku disana 082-8456-1314 bila ada apa apa kau sanggup menghubunginya selain nomer handphone ku

Sahabatmu, Adam

Begitulah isi suratnya, setelah selesai membacanya saya beranjak pergi dari sekolah menuju rumahku, sesampainya di rumah.

Saya pribadi memberitahukan ibu perihal perihal kelulusanku serta nilai dari hasil ujianku, reaksi ibu ketika itu tidak sanggup diucapkan dengan kata kata, yang terang saya sangat gembira sekali atas apa yang telah terjadi ketika ini pada ku, dan hasilnya apa yang saya cita cita kan sanggup terwujud, yaa membahagiakan kedua orang tuaku dan menciptakan mereka gembira kepadaku.

***

Waktu pun begitu mudahnya berlalu, tidak terasa sudah hampir 3 tahun dari program perpisahan itu kabar dari sang sahabat pun tidak mengusik hari hari ku lagi, saya sudah beberapa kali menghubunginya tetapi tetap saja tidak ada perubahan.

Esok harinya saya menemui aliza sahabatku sebab dia kawasan ku mengeluhkan semua keluh kesahku yang kurasakan selain ibuku.

Tanggapan dia mengenai duduk kasus ini hampir sama dengan apa yang kufikirkan, mungkin adam sedang sibuk dengan urusannya atau mungkin dia sudah melupakanku. Sempat terbersit di dalam benakku hal yang menyerupai itu.

Tapi saya fikir kembali rasanya mustahil Adam melaksanakan itu, dia sudah berjanji tidak akan melupakan ku dan suatu ketika nanti dia niscaya menemuiku.

5 Tahun kemudian…. Saat itu saya benar benar kecewa, saya sudah menyianyiakan waktuku yang hanya sebab menunggu seseorang yang tidak ada artinya di kehidupanku, hingga sampai saya merelakan beasiswaku ke luar negeri hanya untuk sesuatu yang pada hasilnya mengecewakan ku. Tapi saya berharap dia tiba menemuiku.

Hari ini saya memutuskan bahwa saya akan menyusul ibuku ke Jakarta, dan melanjutkan kehidupanku di sana.

Saat saya hendak mengunci rumah, tiba tiba sebuah kendaraan beroda empat glamor berhenti sempurna di depan rumahku.

Saya menelaah baik-baik, dan kemudian turun seorang laki laki dari kendaraan beroda empat glamor itu.

Betapa terejutnya saya melihat laki laki itu, ternyata dia Adam, laki laki yang selama ini saya tunggu selama 8 tahun yang lalu.

Ternyata dia tiba tidak sendiri melainkan ditemani oleh seorang perempuan yang berparas cantik, putih, yang berhijab pula. Adam dan perempuan itu bersama-sama menghampiriku.

Terdiam sesaat…. Perempuan itu memperlihatkan senyumannya kepadaku dengan menampakkan lesung pipinya yang sangat indah, disertai salaman sama menyerupai muslimah pada umumnya.

Laki laki itu memang benar dia yaitu adam sahabat se-SMP ku waktu dulu, yang sudah ku anggap menyerupai lebih dari sebatas teman, selalu mengisi hari hariku, selalu menghiasi rasa rinduku, membuatku sanggup tersenyum kembali, yaa.. itu beberapa kanangan bersama dia dahulu.

“Melisa,(dia memulai pembicaraan ) maafkan aku, saya sudah berkhianat pada mu, ini istriku saya menikahinya 3 tahun yang lalu. Orangtua kami sahabat erat baik, dan setuju untuk menjodohkan kami berdua.

Saya tidak sanggup berbuat apa apa mel, karena itu ajakan terakhir dari ayahku. Saya benar benar minta maaf sama kamu. Dan ini kalung mu saya serahkan kembali seutuhnya kepadamu”(sambil menyerahkan seuntai kalung berwarna putih itu ketanganku)

Saat itu saya tidak sanggup berkata apapun selain hati kecilku mencoba untuk tetap tegar dan menerimanya serta jangan hingga air mataku menetes dihadapan mereka.

“Sekali lagi maafkan aku, saya sudah memiliki keluarga baru kehidupan yang baru dan juga ditemani oleh malaikat kecilku, Azzahra,(kemudian turun seorang perempuan yang elok persis menyerupai dengan ibunya menghampiri mereka)

Tidak terasa air mataku pun perlahan menetes membasahi hijab ku, ternyata tanpa disadari air mataku menetes seolah olah sanggup menggambarkan perasaanku ketika ini.

Lebih sakit dari tergores oleh pisau dapur. Tiba tiba anak kecil itu mengusap air mataku dengan sendirinya dan tanpa disuruh oleh siapa pun, saya hanya sanggup tersenyum

“Makasih ade kecilJ”(sambil mengelu-elus pipi cuby nya) dia juga hanya mengangguk.

“Maafkan kami ya Melisa, biar kau mendapatkan jodoh yang terbaik untukmu. Kami doakan kamau sanggup membuka lembaran gres ketika ini dan menatap kehidupanmu sendiri. Kami tidak sanggup berlama-lama disini kerena masih ada urusan yang lainnya yang harus kami selesaikan. Kami pamit dulu yaa… Assalamu’alaikum” kata istrinya, dan mereka kembali menuju mobilnya.

“Walaikummussalam wr.wb” kataku sambil melambaikan tangan kananku sebab Azzahra memulainnya.

Dan mereka pun berlalu. Entah bagaimana rasa sakitku yang tak sanggup kuutarakan mendengar klarifikasi dari mereka berdua. Memang dalam hal ini tak ada yang harus disalahkan, hanya saja saya yang kurang peka terhadap semuanya.

Insyaallah saya tulus dengan semua ini, yang saya inginkan biar Allah terus menjaga ku dan memelihara kaikhlasan dan kesabaranku.

Aku tidak murka apalagi dendam dengan semua ini, mungkin ini yang telah allah gariskan untukku, saya yakin bahwa allah akan memperlihatkan yang jauh lebih baik lagi.

Demikian kisah keikhlasan hati seorang wanita…

TAMAT
Baca Juga...

Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi