Kisah Wanita yang Menolak Lamaran Pria Tampan; Apa Hikmah dan Pelajaran di Baliknya?

Blog Wanita – Lelaki yang mempunyai paras rupawan, adat menawan, melimpah harta simpanan, dan terhormat keturunannya ini mendatangi sang perempuan idaman di kota itu.

Lelaki itu, sebagaimana dikisahkan oleh Anas bin Malik, hendak melamar sang perempuan yang tak kalah mulianya.

Sungguh, menurut ratifikasi sahabiyah Nabi yang mulia ini, “Lelaki ini tidak layak ditolak lamarannya.”

Sayangnya, lanjutnya menerangkan, wanita itu menolak lamaran sang pria dan berkata “Aku seorang Muslim, sedangkan kamu seorang yang tak beriman.” Tegas sang wanita,

“Tidak halal bagiku untuk menikahimu.”

Kemudian, ia sampaikan syarat, “Jika kamu masuk Islam, itulah maharku. Dan saya tidak meminta selainnya.” Demikian itulah cerita singkatnya.

Sebuah ijab kabul yang harumnya mewangi dalam perbincangan sepanjang zaman. Sosok perempuan idaman yang menolak lamaran lelaki terhormat alasannya yaitu lainnya iman.

Bagi perempuan berjulukan Ummu Sulaim itu, apalah artinya harta dan asesoris dunia lainnya jikalau tak ada iman di dalam jiwa? Bukankah semuanya sia-sia tatkala iman tiada? Bahkan, harta dan dunia akan menjadi alasannya yaitu siksa dikala menciptakan lalai dan menentang perintah Allah swt serta pedoman Rasul-Nya yang mulia.

Maka penolakan sang perempuan kepada lelaki berjulukan Abu Thalhah ini, hasilnya menemukan syarat yang sangat mulia.

“Masuklah Islam. Itulah mahar yang kuinginkan. Jika kaulakukan itu, lamaranmu niscaya kuterima.” Demikian itulah maksud sang wanita.

Terkait
1 daripada 21

Ia hendak mengajarkan kepada kita banyak hikmah, petuah, bijaksana, dan betapa pentingnya menempatkan keimanan di atas segalanya.

Apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim ini tercatat oleh sejarah sebagai sebuah capaian emas, mulia, dan tiada duanya.

Bahkan, mahar keislaman yaitu yang pertama kala itu. Beruntungnya, hidayah pun menyambangi Abu Thalhah.

Ia berislam dengan suka rela, tanpa ada yang memaksa, lalu melamar perempuan dambaannya untuk kedua kali. Lalu lamarannya diterima. Keduanya menikah sebagai pasangan pengantin yang diberkahi lantaran kesamaan akidah.

Duh, wajib rasanya membicarakan ijab kabul mereka. Pasalnya, di zaman ini, amat banyak pertentangan terhadap cerita mulia ini.

Ada begitu banyak perempuan yang mengaku Islam, tetapi rela menggadaikan doktrin dengan mendapatkan lamaran lelaki yang beda agama.

Sebabnya hanya harta, tampang, bahkan sesuatu yang naif berjulukan cinta. Alhasil, selepas menikah, sang perempuan keluar dari Islam mengikuti agama suaminya itu.

Innalillahi wa na’udzubillah. Di kalangan lelaki yang mengaku Muslim pun berlaku hal serupa. Mereka lebih menentukan fisik yang cantik, harta yang melimpah, keturunan terhormat, dan asesoris duniawi lainnya, meski perempuan itu berlainan kepercayaan.

Meski ada dispensasi alasannya yaitu pria yaitu pemimpin rumah tangga, tetapi menjadi lain jikalau niatnya tak benar.

Sebab, selepas menikah, ujian untuk tetap berislam menjadi lebih berat. Apalagi di bahu lelaki ada beban berat berjulukan nafkah lahir dan batin. Maka, genggam eratlah nasihat Nabi nan mulia, menikah lantaran agama. Bukan hanya lantaran harta, keturunan, atau rupa semata. Hanya dengan itulah sebuah ijab kabul diberkahi di awal, tengah, dan akhirnya.

Insya Allah

Baca Juga...
Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi