Membayangkan Kesetaraan Laki-laki dengan Wanita

Blog Wanita – Membayangkan kesetaraan laki-laki dengan wanita bagi saya juga tidak mungkin. Tapi sepertinya perjuangan itu tidak surut di luar negeri dan merambah ke Indonesia.

Lihat salihara Jakarta. Dengan bahasa refleksi kreatif seniman wanita, ujung perjuangan mereka adalah kesetaraan.

Tentu, lahirnya gerakan seperti itu di dalam negeri bukan tanpa sokongan. Bahkan gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia bertujuan meningkatkan kesadaran tentang isu  terkait wanita.

Selain itu, juga menyoroti bidang di mana wanita telah membuat langkah signifikan dalam memajukan kesetaraan dalam komunitas mereka.

Anda pernah menonton film pendek Foot Soldiers Perubahan oleh seniman Australia Kelly McIlvenny.

Dalam film itu sekelompok kecil wanita Nepal dari beberapa komunitas yang diajarkan teknik medis dasar untuk mencegah beberapa penyebab atas kematian bayi dan ibu, yang kemudian membawa ini menyelamatkan nyawa teknik kembali ke desa-desa mereka.

Di akhir babak, wanita setara bahkan lebih dari laki-laki.

Membayangkan kesetaraan gender yang kebablasan, membuat saya khawatir, kelak tidak ada lagi pemimpin rumah tangga. Ibu bukan lagi madrasah bagi anak-anak mereka. Namun entah, semua masih semu…

Kesetaraan laki-laki dan wanita itu bagaimana sih?

Kesetaraan laki-laki dengan wanita mendorong mereka yang berkepentingan memberikan suara kepada keadilan sosial lalu mendokumentasikan.

Terkait
1 daripada 21

Persetan dengan feminis atau emansipasi yang faktanya pria dan wanita memang berbeda. Gerakan emansipasi dan feminisme hadir penyebabnya hanya satu, ketidakadilan sosial.

Siapa yang lebih banyak memiliki peran hari ini, faktanya adalah pria, meski wanita bisa menduduki kursi itu. Tapi kenapa bukan wanita?

Pria dan wanita masing-masing memiliki kursi berbeda, tapi dalam perilaku sosial, kadang kursi itu sama. Sama sama bisa diperebutkan, karena entah pria atau wanita yang duduk di atasnya, tidak ada masalah.

Pria wanita kadang meja dan kursi, keduanya masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda sehingga tidak bisa dikatakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Kita bukan memperebutkan tempat terbaik. Walaupun dikatakan ingin membela hak perempuan, namun tetap saja bahwa semua langkah ini berawal dari ketidakpuasan hati ditambah lagi kurangnya kesadaran terhadap fungsi diri sendiri.

Namun pada titik tertentu, konsep kesetaraan harus jelas dan tidak bias. Wanita juga jangan egois kalau hak melahirkan dan menyusui tidak bisa ditempati laki-laki.

Wanita mendapat kehormatan dari yang Maha Kuasa, dan itu sama sekali tidak bisa dilakukan oleh laki-laki.

Sebaliknya, ada tempat yang sama sekali bagi wanita tidak bisa menempatinya. Jangan dipaksakan!

Bukankah laki-laki gagah perkasa dan wanita lemah lembut? Apa jadinya jika kita mencoba menukar tanpa alasan, laki-laki lemah lembut dan wanita gagah perkasa. Jadinya aneh!

Sebagai kesimpulan, kesetaraan laki-laki dan wanita bukan berarti sama, tapi tempatkan jika tepat siapapun dia, laki-laki atau wanita. Perbedaan gender bukan penghalang!

Baca Juga...
Tinggalkan Balasan

Alamat email bersifat pribadi